Behind the Kitchen
  
  
Rib –Oxtail – Burger - Hotdog
Kitchen Story.....
  
Karena bosan berkarir di
perusahaan sekuritas dan setelah bekerja lebih dari 12 tahun, akhirnya Irma
Trisnayanti memilih untuk membuka usaha sendiri agar dapat mempunyai waktu yang
bebas dan tantangan yang lebih menarik. Akhirnya bersama suaminya, pasangan yang
'gembul-gembul' in memutuskan untuk membuka restoran khusus Sop Buntut dengan
mempergunakan resep sang suami yang hobi makan sop buntut. Awalnya sempet gak 'PeDe'
karena keduanya tidak punya pengalaman mengelola restoran dan menjadi juru masak,
serta sebelumnya berkarir sebagai profesional dan lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk traveling, makan-makan dan sedikit foto-foto.
Dalam suatu perjalanan darat
mengelilingi Jawa dan Bali, seluruh restoran yang dilewati yang menjual sop
buntut di coba satu persatu. Kembali ke Jakarta, pasangan ini menjadi lebih 'PeDe'
untuk membuka restoran sop buntut karena yakin bahwa resep sop buntut yang
dimiliki adalah resep khusus sop buntut bukan resep sop biasa yang kemudian di
kasih buntut (makanya motonya kemudian 'Bukan Sop Buntut Biasa'). Untuk menambah
ke orisinalitas restoran maka pasangan ini membuat resep Sop Buntut Karamel yang
terbuat dari Karamel dan Lada hitam serta Sop Buntut Tulang Lunak, karena sang
suami senang menggerogoti tulang buntut bagian ekor. Sop Buntut Tulang Lunak ini
juga sangat baik bagi orang yang menginjak usia tua karena tulangnya sangat
lunak sehingga bisa di makan dan juga mengandung banyak kalsium.
Recipe Story.......
 

"Thank
God, saya di kasih lidah yang bisa mencicipi rasa...!" kata suami Irma.
Mencicipi!!, he3x......, padahal semua orang bisa mencicipi rasa ya???. Awalnya
karena suka makan sop buntut suami Irma belajar untuk membuat sendiri sop buntut
sesuai seleranya. Berbagai macam versi sop buntut di coba dan semua resep sop
buntut di Internet dipelajari. Akhirnya di temukan resep yang sesuai dengan
lidah orang Indonesia dan rasa Internasional (banyak temen bulenya yang doyan
lho!). Seorang teman Amerikanya bahkan belum mau pulang sebelum makan sop
buntutnya sebelum kembali kenegaranya.
"Well, this is something that I
must try again before I die in my Country.." katanya.
Seorang pelanggan restoran
bahkan menuliskan dalam emailnya :
" dari yg nggak suka
buntut.. jadi suka..
dari yg nggak pernah interest sama yg namanya iga alias rib..
lha kok kemaren berani nyentuh.. berani nyoba..
dagingnya empuk pula.. ooops.. magic!!!
jangan2 dapur buntut pake bumbu pelet, nih ..
nyoba'in sekali abis itu selalu pengen balik lagi..
hayo manager db.. ngakuuuuu..!!!
anyway.. 2 thumbs up buat om indra & tante irma..
smoga dalam kurun waktu tidak lama lagi,
gambar kolonel sanders dan nyonya suharti
akhirnya tergantikan dg gambar bossnya si putih..
amiiiiin..
good luck and all the best for dapoer boentoet!!!"
Diatas, adalah beberapa contoh
komentar yang bikin saya bahagia dan makin mencintai dunia kuliner, karena saya
sebenarnya cuman doyan makan enak dan tidak pernah belajar di sekolah
masak-memasak. Ada pula pelanggan yang menyangka kami lulusan perhotelan, karena
Sop Buntut kami rasanya seperti di hotel katanya. Enggak lah, kami cuman "cooking with
love aja...", karena background saya adalah dunia angka-angka dan Irma adalah
dunia sekretaris.
Kembali ke cerita diatas, awalnya
sop buntut hanya dibuat saat acara kumpul-kumpul bersama teman-teman di
rumah. Karena banyak yang suka, akhirnya mereka menyemangati kami untuk membuat
restoran suatu hari nanti, sampai akhirnya terwujud saat ini.
"Thanks for all of my friends,
that what friends are for. Thanks for your support and your taste!"

Our Commitment..!
 
 
Dapur buntut adalah rumah kedua
kami juga tempat teman-teman kami makan, sehingga seluruh makanan yang dibuat
kami jamin kesegaran dan kesehatannya dengan tidak menambahkan bumbu-bumbu yang
berbahaya bagi kesehatan kami, karena kami sendiri juga ikut memakannya dan
ingin tetap panjang umur. Komprominya adalah kami harus memasak tulang untuk
kaldu selama lebih dari 4 jam untuk menghasilkan kuah yang enak dan gurih saat
di hidangkan serta membuang lemak-lemak yang tidak diperlukan. Jadi, Sop buntut yang kami buat sebenarnya telah melewati
proses yang lama agar dapat di hidangkan dengan lezat dan sehat. Demikian
komitmen pasangan yang hobi masak barbeque outdoor sambil ber off-road bersama
teman-temannya itu.

Our Price...!
Sayangnya bahan baku bagi menu
kami memang mahal bahkan lebih mahal dari daging biasa, sehingga kami tidak bisa
menjualnya menjadi murah. Kami juga tidak mencampurkan tulang-tulang selain
buntut dalam sop buntut buatan kami, semua adalah murni buntut sapi. Pelanggan
yang tidak pernah menikmati sop buntut ala bintang lima bilang sop buntut kami
mahal, tapi pelanggan yang sebelumnya pelanggan sop buntut bintang lima bilang
sop buntut kami murah.
Setelah berjalan 2 tahun, akhirnya
kami membuat 3 struktur harga bagi pelanggan kami yaitu:
Premium Price - Iga Panggang
Middle Price - Sop Buntut
Low price - Burger Panggang
Jadi semuanya tergantung, anda kan
?
Our Resto...!
Tadinya cuman pingin bikin warung
biasa yang bersih dan sehat hanya karena kondisi lokasi tidak memungkinkan
akhirnya dibuat tempat yang tertutup dan ber AC. Sebenarnya paling enak
menikmati sop buntut sambil di temani oleh cucuran keringat lebih memberikan
sensasi tersendiri. Namun apa daya kondisi lingkungan tidak memungkinkan.
Walaupun tidak mahal, dapur kami bersih bahkan berkonsep "open kitchen" sehingga
dapat terlihat dari meja pelanggan. Selain itu karena karena hobi makan, kami
jadi tahu bahwa restoran yang makanannya enak biasanya WCnya tidak terawat. Kami
merubah image itu, dengan membuat WC yang bersih dan terawat sehingga anda
tidak akan sungkan masuk ke WC kami (ha3x.., lucunya, WC aja di komentarin). Ini
adalah pengalaman kami mengunjungi banyak restoran sehingga kami tidak ingin hal
ini terjadi di restoran kami yang mungil ini.
" Best foods restaurant must have
a clean
toilet"

|